Rangkaian Elektro Pneumatik Sederhana dengan Siklus A+, B+, A-. B-

Rangkaian Elektro Pneumatik Sederhana dengan Siklus A+, B+, A-. B-
Hi! rekan-rekan pembaca artikel sekalian, Senang bisa membagikan ilmu-ilmu sederhana yang mungkin bisa menjadi bahan pembelajaran rekan-rekan dalam mengerjakan tugas, proyek ataupun untuk tugas akhir untuk mahasiswa mahasiswi semester awal hingga semester akhir. Pada kesempatan kali ini penyusun ingin membagikan knowledge yang sudah penyusun dapatkan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejurusan (SMK). Yap!, terkait tentang elektro pneumatik. Mungkin pembaca sekalian sudah tidak asing dengan elektro pneumatik, dimana sistem ini sudah sering digunakan dalam industri 3.0 bahkan hingga sekarang masih tetap digunakan untuk mendukung perkembangan di lingkungan industri 4.0. Materi yang akan penyusun bawakan adalah "Rangkaian sederhana elektro pneumatik menggunakan 2 buah silinder dengan siklus A+, B+, A-. B-". Tanpa basa-basi langsung saja simak artikel berikut ini.

Sebelum lanjut ke materi dasarnya, penyusun ingin mengulang kembali pemahaman tentang elektro pneumatik secara mendasar. Mungkin ada yang sudah tau apa itu "Elektro pneumatik" atau bahkan ada yang masih belum paham tentang istilah tersebut. Berikut ini adalah penjelasannya.

A. Pengertian Elektro Pneumatik
Elektro Pneumatik adalah sistem yang menggabungkan teknologi listrik dan pneumatik untuk mengendalikan dan mengatur gerakan mekanis. Sistem ini menggunakan sinyal listrik untuk mengaktifkan dan mengatur komponen pneumatik, seperti katup, silinder, dan aktuator, untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Dalam sistem elektro pneumatik, sinyal listrik digunakan untuk mengaktifkan katup pneumatik, yang kemudian mengalirkan udara bertekanan ke silinder atau aktuator. Silinder atau aktuator ini kemudian melakukan gerakan mekanis, seperti mengangkat, menurunkan, atau menggerakkan objek. Sistem elektro pneumatik memiliki beberapa kelebihan, seperti:
  • Fleksibilitas: Sistem elektro pneumatik dapat diintegrasikan dengan berbagai jenis peralatan dan sistem lainnya.
  • Kecepatan: Sistem elektro pneumatik dapat mengaktifkan dan mengatur komponen pneumatik dengan sangat cepat.
  • Presisi: Sistem elektro pneumatik dapat mengatur gerakan mekanis dengan sangat presisi.
Namun, di sisi kelebihannya yang fleksibel, kecepatan yang cepat dan presisi. Sistem ini juga memiliki kelemahan, diantaranya yaitu: 
  • Kompleksitas: Sistem elektro pneumatik dapat menjadi sangat kompleks dan memerlukan perawatan yang rutin.
  • Biaya: Sistem elektro pneumatik dapat menjadi sangat mahal, terutama jika digunakan dalam skala besar.
Setelah memahami dasar dari elektro pneumatik, lalu memahami kelebihan dan kekurangannya. lanjut ke pembahasan tentang cara kerja dari rangkaian siklus A+, B+, A-, B-. Berikut ini adalah penjelasannya.

B. Rangkaian Elektro Pneumatik dengan Siklus A+,B+,A-,B-

Rangkaian Elektro Pneumatik Sederhana dengan Siklus A+, B+, A-. B-

Pada rangkaian di atas merupakan rangkaian sederhana elektro pneumatik dengan siklus A+, B+, A-, B-. Pada rangkaian tersebut terdapat 2 buah silinder kerja ganda, lalu ada 2 buah solenoid dengan katup 5/2 (keduanya pengaktif dan pembalik solenoid). Kemudian terdapat tombol start 1x buah, terdapat 4 buah relay dan terakhir ada 4 buah sensor. Pastikan semua sumber angin dari kompresor, serta power supply sudah terpenuhi.

C. Cara Kerja Elektro Pneumatik Siklus A+,B+,A-,B-
Cara kerjanya yaitu, pada saat tombol start di tekan maka arus 24v yang berada di jalur 1 akan mengaktifkan Relay 1 dengan kode R1. Karena Relay 1 aktif, di jalur 2 ada kontak NO R1 yang aktif untuk membuat rangkaian pada jalur 1 dan jalur 2 menjadi aktif atau istilahnya disebut dengan rangkaian terkunci. Setelah rangkaian sudah terkunci, selanjutnya adalah jalur yang berada di angka 9 aktif karena kontak NO R1 menjadi NC (Normally Close). Sehingga Solenoid 1 aktif yang membuat katup 5/2 bergerak mengakibatkan jalur angin ke silinder kerja ganda berubah. Karena ada perubahan jalur angin, menyebabkan silinder kerja ganda "A" bergerak maju hingga menyentuh sensor A+.

Setelah sensor A+ aktif pada jalur 2, menyebabkan rangkaian yang ada di jalur 3 dan jalur 4 aktif, sehingga relay R3 aktif. Sama hal nya dengan jalur 1 dan jalur 2 yang diakibatkan adanya rangkaian pengunci, menyebabkan jalur rangkaian 3 dan rangkaian 4 aktif, sehingga R3 memiliki supply 24v yang tercukupi terus menerus. Lalu jalur rangkaian 1 dan 2 terputus karena terdapat kontak NC pada R3 yang menyebabkan rangkaian terputus. Karena R3 aktif, maka jalur yang ada di 11 akan aktif untuk mengaktifkan Solenoid 3. Sehingga silinder kerja ganda "B" aktif bergerak maju hingga sensor B+ aktif.

Setelah silinder B maju dan menyentuh atau mengaktifkan sensor B+, maka pada kontak sensor B+ yang berada pada jalur rangkaian 5 akan berubah dari kontak NO menjadi kontak NC. Akibat perubahan kontak dari sensor B+, maka arus 24 volt akan mengaktifkan R2 atau relay 2. Karena R2 aktif, terdapat kontak NC pada jalur rangkaian 3 untuk memutus arus dan tegangan yang berada di R3. Kemudian, ada 2 kontak NO dari R2 yang aktif. 1 kontak NO (Normally Open) digunakan untuk mengaktifkan rangkaian listrik pada jalur 5 dan 6 sebagai rangkaian pengunci. Kemudian ada 1 lagi kontak NO R2 yang ada di jalur 10 yang digunakan untuk mengaktifkan solenoid 2. Hal ini menyebabkan solenoid bergerak kembali ke posisi awal, sehingga silinder kerja ganda A bergerak mundur hingga menyentuh sensor A-.

Setelah sensor A- aktif, maka jalur rangkaian elektro pneumatik  yang ada di jalur 7 dan 8 akan aktif menyebabkan R4 atau relay 4 aktif. Sama halnya dengan R1, 2 dan R3 siklus rangkaian yang aktif. di R4 juga memiliki 1 buah kontak NC yang aktif dan 2 buah kontak NO yang aktif. kontak NC digunakan untuk memutus arus yang ada di rangkaian jalur 5 dan 6. Kemudian 1 buah kontak NO digunakan untuk mengaktifkan rangkain pengunci, dan kontak yang terakhir aktif untuk mengaktifkan solenoid 4 yang digunakan untuk menggeser katup 5/2 agar silinder kerja ganda B bergerak mundur hingga menyentuh sensor B-.

Karena sensor B- aktif, maka akan memutus rangkaian yang ada di jalur 7 dan 8. Hal ini dilakukan untuk mengamankan rangkaian agar tidak terjadi tabrakan. Hal ini juga disebut dengan siklus safety pada rangkain elektro pneumatik. Walaupun Sensor A- aktif untuk mengalirkan arus 24 volt ke R4. Hal ini tidak menyebabkan R4 aktif karena sensor B- aktif. Sehingga rangkaian terputus dan arus tidak sampai mengaktifkan R4. Bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Rangkaian Safety Elektro Pneumatik

Sekian penjelasan terkait bagaimana cara kerja dari rangkain elektro pneumatik untuk siklus (A+, B+, A-. B- atau A+B+A-B-). Jika ada hal yang ingin ditanyakan, silakan cantumkan hal tersebut di kolom komnetar, Terimakasih.

****
Tag : Pneumatic

Related Post:

2 Komentar untuk "Rangkaian Elektro Pneumatik Sederhana dengan Siklus A+, B+, A-. B-"

Saya cari kemana-mana dan saya menemukan artikel ini yang memaparkan banyak sekali ilmu tentang pneumatik. Jadi lebih terbuka wawasan saya setelah membaca artikel ini.

Lanjutkan mas

Salam dari satu almamater ITS

Silakan berkomentar sesuai dengan topik. Jangan menyisipkan link pada komentar dan jangan sampai komentar Anda masuk komentar SPAM.

Jangan salahkan Saya bila komentar Anda dihapus !

Back To Top